Tidak Boleh Ada Bangunan Lebih Tinggi dari Menara Masjid Baiturrahman



Pengalaman Pertama Berada di Serambi Mekah (4)

Kopi Ulee Kareng dan Gayo sudah dirasa. Mie Aceh yang terkenal itu juga sudah dirasa. Memang makyus. Lantas, apa yang membuat penasaran. Tak lain adalah Masjid Baiturrahman. Belum ke Aceh kalau belum menginjakkan kaki di masjid legendaris ini.

Kebetulan ada waktu untuk jalan-jalan. Mau ngajak istri, belum bisa. Karena, ia harus selalu mendampingi kontingen Kalbar. Saatnya berburu ikon utama negeri Serambi Mekah. Target utama Masjid Baiturrahman. Dari kecil, bila ketemu kalender masjid-masjid di Indonesia, selalu ada masjid ini. Sampai sekarang, masjid kebanggaan Aceh itu tetap ada. Banyak artikel atau tulisan mengulas soal masjid penuh sejarah di Kota Banda Aceh itu. Saya pun tidak mau ketinggalan untuk meng-explore-nya.

Dari Hotel Jeumpa tempat menginap, saya pesan ojek online. Hanya butuh dua menit, ojek yang dipesan tiba. Begitu naik, handycam dinyalakan untuk merekam apa saja yang dilewati saat menuju Masjid Baiturrahman. Lewat ojek ini saya bisa merasakan denyut nadi Kota Banda Aceh. Lumayan juga tata kota maupun pembangunan infrastrukturnya. Jalanan tidak terlalu macet. Kalaupun ada macet, di lampu merah saja. Selebihnya, lancar. Kiri kanan jalan berjejer kantor pemerintah, ruko, tempat makan, dan sebagainya. Kalau bisa saya bandingkan dengan dengan Kota Pontianak, kurang lebih lah.

Kurang lebih 20 menit, saya tiba di Masjid Baiturrahman. Wow, masjid yang selama ini hanya saya lihat di poster, kalender, televisi, sekarang ada di depan mata. Luar biasa besarnya. Terkesima melihat keindahannya. Sungguh menakjubkan. Saya pun tak sabar masuk dan mengabadikan setiap sisi masjid. Cuma, delapan ribu bayar ojek. Usai dibayar, saya langsung menuju halaman.

Halaman masjid terbuat dari marmer, sepatu dan sandal dilepas 

Umumnya kalau kita masuk ke masjid, sandal dan sepatu dilepas saat mau masuk ke bagian dalam. Kalau di halaman masjid, biasanya tidak dilepas. Sedikit berbeda di Masjid Baiturrahman, saat mau masuk ke halamannya saja, sudah ada larangan, sandal dan sepatu hendaknya dilepas. Halamannya luar biasa luas. Ya, mau tidak mau, sandal dilepas. Cukup diletakkan di bagian pembatas halaman dengan pinggiran jalan masuk. Saya tak berpikir, jangan-jangan sandal hilang. Saya percaya, tidak mungkin ada maling sandal di Aceh. Di sinikan negeri Serambi Mekah. Pastinya tidak ada maling. Begitu pikiran saya. Bismillah, sayapun masuk ke halaman masjid. Belum masuk ke dalamnya ya.

Saat kaki sudah menginjak halaman masjid, subhanallah. Yang diinjak bukan semen atau keramik, apalagi rumput, melainkan marmer. Baru kali ini saya menginjak halaman masjid menggunakan marmer. Luar biasa. Halaman sangat luas, semua ditutupi dengan marmer. Mungkin di sini alasannya, kenapa harus melepas sandal dan sepatu. Karena, halamannya terbuat dari marmer. Saya bisa bayangkan mau berapa keping marmer. Saat mau membawanya ke Aceh, mau berapa kontainer.

Dengan hamparan marmer membuat halaman Masjid Baiturrahman berkilau. Seolah-olah memancarkan sinar yang membuat bangunan masjid seperti bercahaya. Tidak ada sampah sedikitpun. Bersih dan terasa nyaman saat diinjak. Inilah momen paling bagus mengabadikan masjid ikon paling mempesona di Aceh. Setiap sudut masjid saya rekam. Termasuklah, menara masjid. Di bagian ini sangat menarik. Kenapa menarik, menara masjid ditetapkan ukuran ketinggian untuk seluruh bagunan di Banda Aceh. Tidak boleh ada satu bangunanpun melebihi tingginya menara masjid. Informasi ini saya dapat dari abang ojek yang mengantarkan saya tadi.

“Seluruh bangunan di Banda Aceh, tidak boleh melebihi tingginya menara Masjid Baiturahman,” kata tukang ojek online.
“Alasannya apa, Bang?” tanya saya penasaran.
“Masjid adalah rumah Allah. Bangunan yang dimuliakan. Jangan sampai ada bangunan melebihi besar dan megahnya dari rumah Allah. Itu sebabnya, pemerintah daerah menetapkan, tidak boleh ada bangunan melebihi tingginya Masjid Baiturrahman,” jelas tukang ojek sambil memacu kendaraannya.
 
Menara ini jadi ukuran, tidak boleh ada bangunan lain lebih tinggi
Baru saya paham. Dan, sekarang saya sudah berada di depan menara. Saya rekam dari ujung sampai bagian bawah. Memang tinggi. Saya perhatikan bangunan di sekeliling masjid, memang tidak adan melebihi tingginya dari menara. Sangat luar biasa orang Aceh dalam menempatkan posisi masjid. Sangat mereka agungnya. Bahkan, Masjid Baiturrahman bukan sekadar tempat ibadah semata, melainkan simbol persatuan.

Puas mengabadikan menara, mata saya tertuju pada kelompok anak kecil sedang baris-berbaris di halaman masjid. Saya dekati. Ternyata, anak-anak TK sedang belajar tawaf. Mereka dibimbing oleh gurunya. Lagi-lagi saya takjub, halaman masjid juga bisa menjadi lokasi pembelajaran. Beberapa orang saya tanya, banyak sekolah membawa pelajarnya ke halaman masjid untuk melakukan berbagai aktivitas. Tak heran apabila halaman masjid selalu dipenuhi akvitas keagamaan.
 
Anak TK sedang belajar tawaf di halaman masjid
Saya beralih ke bagian dalam. Kamera tetap hidup dan terus merekam. Begitu masuk, subhanallah, di dalamnya sangat luas. Cuma, banyak tiangnya. Perkiraan saya ada puluhan tiang. Dengan banyaknya tiang membuat banyak objek tertutupi. Walau demikian, suasana kesakralan masjid sangat terasa. Saya terus merangsek ke bagian depan. Banyak orang sedang duduk. Awalnya saya duga para tamu atau wisatawan yang ingin ibadah. Mereka membaca doa bersama. Ternyata saya salah. Rupanya sedang berlangsung akad nikah. Baru saya tahu, Masjid Baiturrahman juga dijadikan tempat untuk melangsungkan akad nikah. Umumnya masyarakat Aceh bila melangsungkan akad nikah di masjid. Masjid Baiturrahman selalu menjadi favorit sebagai melangsungkan peristiwa pernikahan.
Acara akad nikah di bagian dalam masjid

Saya perhatikan, ada beberapa bagian yang sepertinya bangunan lama. Tetap dipertahankan keasliannya. Banyak juga yang sudah diganti dengan bangunan baru. Dari informasi yang saya dapatkan, saat tsunami menghantam Banda Aceh, beberapa bagian dari bangunan yang retak. Rusak oleh hantaman air bah. Semua yang retak maupun yang rusak diperbaiki (renovasi) dan diganti dengan yang baru. Walau demikian, struktur bagunan lama tetap dipertahankan. Terus terang saya sangat takjub dan merasa damai ketika berada di dalamnya. Subhanallah.
Bagian dalam banyak dihiasi tiang-tiang

Masjid Baiturrahman saat tsunami juga menjadi tempat warga berlindung. Saya perhatikan, di sekitar masjid adalah pasar. Banyak ruko berdiri. Saat tsunami itu, warga di sekitar masjid berhamburan masuk. Mereka berlindung di dalamnya. Semua selamat. Mungkin ini bagian dari rahasia Allah. Hampir semua sudut bagian dalam masjid saya abadikan dengan kamera. Semua terekam dengan baik. Paling tidak, dokumen yang saya dapatkan sebagai bukti atau bahan untuk saya bercerita pada kawan-kawan di Pontianak. Tidak sekadar cerita lisan, tapi bisa dilihatkan videonya agar lebih mengesankan.
Payung raksasa di halaman masjid sedang diperbaiki

Tidak kurang satu jam lebih meng-explore Masjid Baiturrahman. Apa yang diinginkan sudah didapatkan. Rasa penasaran terhadap masjid yang sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda itu, sudah terbayarkan. Sungguh sangat senang dan bangga bisa menginjakkan kaki di masjid kebanggaan orang Aceh.

Dengan berkunjug ke Masjid Baiturrahman, berarti saya sudah berkunjung ke Aceh. Sebab, kata orang, belum ke Aceh kalau belum masuk ke Masjid Baiturrahman. Sekarang sudah masuk, berarti sudah ke Aceh. Sah ya…hehehe. Begitulah, saya punye cerite. Nantikan kisah berikutnya ya..!





SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER

Menangkap Kejadian - Memberi Makna Hidup

0 Response to "Tidak Boleh Ada Bangunan Lebih Tinggi dari Menara Masjid Baiturrahman"

Post a Comment