Beda Survei, Beda Hasil. Pusing Palak Berbie


Dalam tiga hari terakhir, media massa secara full memberikan hasil survei dari Lembaga Cirus. Dari survei yang berbasis di Jakarta ini memperlihatkan betapa superiornya Karolin Margret Natasa alias Karol atas lawan-lawannya. Hampir semua lini, Karol selalu unggul. Sepertinya tidak ada yang mampu mendandingi kehebatan putri sulung Gubernur Kalimantan Barat ini.

Hasil survei Cirus inipun di-blow up habis-habisan oleh pendukung maupun simpatisan Karol. Tak ayal, baik media elektronik, cetak, sampai media sosial penuh sesak oleh hasil survei Cirus. Judul beritanya, Karol unggul, Karol tak tertandingi, Karol mendominasi, Karol superior. Pokonya semua yang berbau hebat ditujukan pada Karol semua. Semua berpedoman pada Cirus.  Cie-..cie..Cirus, naik daun di Kalbar.

Kiriman link berita datang silih berganti masuk ke WA saya. Bahkan, ada yang merangkum sampai 14 media online telah memuat hasil survei Cirus itu. Pegal juga kalau dibuka satu-satu. Semua isinya, Karol unggul. Itu baru media online. Saya tak ngecek dengan media cetak, mungkin pada headline semua kali.

Bisa ditebaklah, kenapa hasil survei itu dibangun sedemikian rupa, jelas untuk membangun opini bahwa Karol itu memang hebat, layak memimpin Kalbar. Karol cocok menggantikan ayahnya Drs Cornelis MH sebagai Gubernur Kalbar. Pesan yang ingin dicapai adalah “bila nanti 27 Juni 2018, di bilik suara, coblos Karol ya. Itu be…pesan utamanye, wak…”

Di tengah eforia keunggulan Karol atas lawan-lawannya di lembaga survei Cirus, tadi malam (22/12/2017), saya mendapatkan link berita dari seorang kawan. Link berita itu, wartaekonomi.co.id. Saya tak tahu siapa yang punya link berita ini. Sepertinya bukan media oline lokal, tapi nasional juga. Nah, di dalam media online itu membuat berita juga hasil survei. Bukan survei Cirus. Tapi, dari Lembaga Kajian Pemilu Indonesia (LKPI). Hasilnya, justru berbanding terbalik dengan hasil survei Cirus. Justru Karol yang mendominasi di survei Cirus, malah anjlok. Whaaat….kok bisa.

Masih tak percaya ya…Baiklah saya coba kutip sebagian isi beritanya. Dibaca pelan-pelan agar tak gagal paham.
Lembaga Kajian Pemilu Indonesia merilis hasil survei jajak pendapat jelang Pilkada Kalimantan Barat tahun 2018.  Survei yang mengangkat tema Masyarakat Akcaya (“Tak kunjung binasa”) itu dilakukan untuk mengukur tingkat popularitas, akseptabilitas, kapabilitas, dan keterpilihan bakal pasangan kepala daerah Kalimantan Barat.

Survei ini dilakukan sejak 10 Desember hingga 19 Desember 2017 dengan responden sebanyak 2225 orang dari tiga kota dan 11 kabupaten di Kalimantan Barat. Survei ini menggunakan metode multistage random sampling, dengan Tingkat Kepercayaan 95% dan Margin of error sebesar kurang lebih 2,1%.

Direktur Eksekutive LKPI, Arifin Nur Cahyono mengungkapkan, pasangan yang diuji dalam survei ini diantaranya adalah Pasangan Sutarmidji-Ria Norsan,  Karolin Margaret Natasya- Suryadman Gidot, Milton Crosby–Boyman Harun dan Hildi Hamid-Lasarus.

"Dalam hasil survei ditemukan tingkat pengenalan masyarakat dan kesukaan masyarakat pada nama pasangan bakal calon kepala daerah yang diuji, pasangan Milton Crosby–Boyman Harun memiliki tingkat popularitas dan disukai oleh masyarakat Kalimantan Barat sebesar 87,2 persen sedangkan Sutarmidji-Ria Norsan 83,2 persen , pasangan Karolin Margaret Natasya-Suryadman Gidot  64,8 persen dan Hildi Hamid-Lasarus 82,7 persen, Sutarmidji-Ria Norsan dianggap bersih dari korupsi oleh 71,2 persen, lalu Hildi Hamid-Lasarus 69,3 persen," papar Arifin dalam keterangannya, Kamis (21/12/2017).

Sedangkan pasangan yang dinilai paling bersih dari potensi kasus korupsi, pasangan Milton Crosby – Boyman Harun dinilai oleh 88,7 persen responden sebagai pasangan yang bersih dari korupsi. "Sedangkan pasangan  Karolin Margaret Natasya-Suryadman Gidot dinilai sebagai pasangan yang bersih dari korupsi hanya oleh 51,8 persen responden," tandasnya.

Tak hanya itu, lanjut Arifin, pasangan Milton Crosby–Boyman Harun juga dinilai oleh 89,3 persen responden sebagai pasangan yang cerdas dan visioner.” Ini linknya https://www.wartaekonomi.co.id/read165019/survei-pilkada-milton-boyman-ungguli-putri-gubernur-kalbar.html

Nah, bagaimana, jelaskan semua. Saya tak bohongkan. Kok beda hasilnya. Jelas beda dong. Bukan rahasia lagi, lembaga survei saat ini kredibilitasnya banyak diragukan. Kebanyakan hanya menggiring opini. Bahasa kasarnya, tergantung siapa yang pesan. Beda lembaga survei, pasti beda hasilnya. Ya, begitulah. Semua itu bagian dari intrik politik, ingin menggiring opini masyarakat.

Kalau saya sih, lebih banyak tak percaya. Tetap paling menentukan pada retak tangan. Pilkada itu seperti  bola. Susah ditebak. Siapa menyangka Bupati Sambas yang sekarang, Atbah Romin Suhaili bisa jadi terpilih. Siapa menyangka, Martin Rantang lewat jalur independent terpilih jadi Bupati Ketapang. So, siapapun yang bertarung di Pilgub Kalbar 27 Juni 2018, punya peluang untuk menang. Siapa tahu pemenangnya malah Kartius –Pensong dari jalur independent. Pada kaget kan….ha..ha..ha. Jangan masukkan ke hati, bro. Enjoy saja kita..Sekian.




SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER

Menangkap Kejadian - Memberi Makna Hidup

1 Response to "Beda Survei, Beda Hasil. Pusing Palak Berbie"