Ketakutan-ketakutan PNS yang Membuat Saya Tersenyum


“Senyam-senyum tu, Bang. Ade ape ni?” Lucu dengan Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau Aparatur Sipil Negara (ASN). Imbauan Bawaslu jangan nak macam-macam di Pilkada Serentak, benar-benar diindahkan oleh para abdi negara. Saking takutnya, kadang membuat saya tersenyum.
“Bagian manenye yang membuat abang tersenyum ni? Begini ceritanya. Saya ada membuat polling untuk Pemilihan Gubernur Kalbar. Bisa dilihat di atas tulisan ini. Itulah dia pollingnya. Di dalam polling ada satu pertanyaan, Siapakah Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Kalbar menurut pilihan Anda? Ada empat pilihan. Bila ingin memilih, cukup pencet salah satunya. Keempat pilihan itu, Karolin Margret Natasa – Suryadman Gidot, Kartius – Pensong, Milton Crosby – Boyman Harun, dan Sutarmidji – Ria Norsan. Apabila sudah memilih, berarti tidak boleh memilih lagi. Sistem akan menolak bila memilih dua kali. One man one vote. Mantap kan!

Biasanya, hasil polling itu saya share setiap sore di WA. Banyak tertarik dengan polling itu. Bahkan, ada yang selalu menunggu hasilnya. Nah, di antara kawan yang merespon, banyak di antaranya PNS. Para abdi negara ini hanya mau menanyakan hasil, tapi tak berani vote atau memilih salah satu kandidat.

Ketika PNS ada yang tidak berani vote, saya tanya, kenapa tidak memilih? “Takut, Pak. Saya kan PNS,” begitu jawabannya. Ada yang menjawab, tidak berani. “Takut tercyduk,” kata PNS yang lain. Ada juga menjawab dengan menyertakan aturan, bahwa PNS dilarang untuk memilih seorang kandidat di masa kampanye. Jawaban-jawaban itulah yang membuat saya tersenyum.

“Oh begitu ya Bang”. Iya, memang demikian para PNS berpendapat terkait polling saya itu. Baiklah para abdi negara. Polling yang saya buat itu menggunakan fasilitas blog. Ada fitur polling yang telah disiapkan. Artinya ada sistem blog yang mengaturnya. Dalam sistem itu, para pemilih tinggal pencet saja, perhitungan akan langsung muncul. Angkanya saja yang muncul. Sementara yang tukang pencet, tidak muncul. Bahkan, memang didesign tidak boleh dimunculkan status orang yang pencet.

“Jadi, kalau kita pencet, yang muncul itu angka. Bukan nama kita yang tertera. Misalnya, Ahmad PNS Kantor KUA telah memilih kandidat A. Bukan demikian. Yang dimunculkan hanya angka doang. Bukan nama yang tukang pencet”.

“Ha..ha..ha..iya benar Bang. Kalau ngisi polling memang angka saja yang muncul. Saya pun ikut tertawa jadinya”.
“Mungkin karena saking takutnya, mereka pun berhati-hati. Sampai ngisi polling pun tak berani. Padahal, tidak apa-apa itu. Tapi, sudahlah. Mereka umumnya memang belum paham cerita polling di internet”.

Inilah larangan untuk PNS di masa Pilkada Serentak:
Berikut larangan bagi PNS jika mengacu kepada surat itu :

a. PNS dilarang melakukan pendekatan terhadap partai politik terkait rencana pengusulan dirinya ataupun orang lain sebagai bakal calon Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah.

b. PNS dilarang memasang spanduk/baliho yang mempromosikan dirinya ataupun orang lain sebagai bakal calon Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah.

c. PNS dilarang mendeklarasikan dirinya sebagai bakal calon Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah.

d. PNS dilarang menghadiri deklarasi bakal calon/bakal pasangan calon Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah dengan atau tanpa menggunakan atribut bakal pasangan calon/atribut partai politik.

e. PNS dilarang mengunggah, menanggapi (seperti like, komentar, dan sejenisnya) atau menyebarluaskan gambar/foto bakal calon/bakal pasangan calon Kepala Daerah, visi misi bakal calon/bakal pasangan calon Kepala Daerah, maupun keterkaitan lain dengan bakal calon/bakal pasangan calon Kepala Daerah melalui media online maupun media sosial.

f. PNS dilarang melakukan foto bersama dengan bakal calon Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah dengan mengikuti simbol tangan/gerakan yang digunakan sebagai bentuk keberpihakan.


g. PNS dilarang menjadi pembicara/narasumber pada kegiatan pertemuan partai politik.

SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER

Menangkap Kejadian - Memberi Makna Hidup

0 Response to "Ketakutan-ketakutan PNS yang Membuat Saya Tersenyum"

Post a Comment