KPK Tetapkan Satu Calon Gubernur Kalbar "Tersangka", Hoax Disebarkan Tokoh



Semua benci hoax. Banyak komunitas menyatakan perang terhadap berita bohong. Kampanye antihoax memang gencar. Sayang, sejauh ini belum begitu sukses. Terbukti, hoax masih saja muncul. Lebih parah lagi, hoax malah disebar para tokoh.

Sebagai contoh, pada 1 Juni 2018 lalu, sekitar pukul 05.10 WIB, ada seorang tokoh menyebarkan hoax lewat WA. Ia menyebarkan informasi hoax, ada seorang calon gubernur Kalbar merasa sadar tidak akan menang di Pilkada 27 Juni. Lalu, calon gubernur itu mengajak pemilih yang memiliki hak pilih memilih paslon lain. Beberapa jam setelah hoax itu tersebar massif, muncul klarifikasi dari calon gubernur dimaksud. Sang calon gubernur lewat video membantah. Kirain, cerita hoax habis di sini. Eh…ternyata muncul lagi. Kali ini lebih sadis.

Sekitar pukul 20.33 WIB, 3 Juni 2018, sebuah pesan masuk ke WA Grup. Di-share seorang tokoh Kalbar juga. Begitu saya baca, kaget juga. Kening sedikit mengkerut. Informasi yang disebar soal Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akan merilis nama-nama calon kepala daerah yang mengikuti Pilkada Serentak ditetapkan sebagai tersangka korupsi. Kok, bisa ya! Penasaran. Saya terus membaca pesan yang cukup panjang.

Saya baca secara cermat. Ada 17 nama calon kepala daerah bakal jadi tersangka korupsi. Ada calon gubernur, bupati, dan walikota yang mengikuti Pilkada serentak 27 Juni. Yang membuat saya terkejut, dari 17 nama ini, ada dua nama dari Kalbar. Satu calon gubernur dan satunya lagi calon bupati. Wow…Dalam hati saya, bisa heboh Kalbar bila ini terus di-spin atau disebar luas lewat media sosial.

Bagaimana perasaan calon gubernur dan bupati kalau membaca informasi hoax dari KPK itu? Bagaimana perasaan tim suksesnya yang tengah bekerja keras merebut simpati masyarakat? Dalam hatinya pasti gemas, dongkol, emosi, bahkan marah tingkat tinggi. Kalau tahu siapa yang membuat hoax itu, pasti dipersekusi, bahkan bisa dilaporkan ke polisi. Siapa yang tak emosi, diberitakan jadi tersangka korupsi oleh KPK. Padahal, faktanya tidak demikian. Tentu di balik hoax itu, ingin menjatuh pamor dan martabat calon gubernur dan bupati. Target utamanya, pemilih diajak buka mata, pasang telinga, jangan pilih calon pemimpin tersangka korupsi. Jelas mereka sangat dirugikan. Bagi lawan politiknya, senang-senang saja membaca informasi hoax model itu. Bahkan, tersenyum.

Begitu berita hoax itu muncul, untung saja saja sejumlah anggota WAG, banyak cerdas. Ada tiga anggota grup, men-share berita online dari detik.com. Dalam berita itu, Ketua KPK Agus Raharjo membantah rilis tersebut. KPK tidak pernah mengeluarkan rilis terkait calon kepala daerah yang akan dijadikan tersangka. Nah, lho…hoax kan! Ya, memang dari awal saya duga itu hoax. Simpel saja mendeteksi sebuah informasi itu hoax, tidak ada sumbernya. Setiap informasi yang tidak ada sumbernya, pasti hoax.

Kembali ke tokoh yang menyebarkan hoax. Soal rilis informasi hoax dari KPK oleh tokoh, memang sangat disesalkan. Memang ada pertanyaan pendek di ujung informasi itu, “Bener nggak nih?” Menunjukkan ia ingin memverfikasi soal informasi tersebut pada anggota WAG. Siapa tahu ada yang bisa menjawabnya. Walau demikian, rilis sudah masuk di grup. Bayangkan bila ada anggota lain men-share ke pihak lain. Informasi itu lalu di-share lagi dan terus menyebar luas seantero Kalbar. Kemudian, informasi itu dimanfaatkan untuk menjatuhkan pamor calon gubernur dan bupati. Oke, bagi yang cerdas, begitu mendapat informasi itu, langsung di-delete, atau tidak di-share ke pihak lain. Istilahnya, cukup berhenti di dia saja. Bagaimana kalau yang menerima itu, pulli (tak peduli, bahasa Melayu). Pasti informasi itu di-share lagi ke grup-grup WA. Kalau sudah demikian, siapa yang bertanggung jawab. Yang bertanggung jawab tentu para penyebar hoax. Mereka yang jempolnya lebih pintar dari otaknya.

Terus terang, saya sangat tidak senang bila ada tokoh menyebarkan hoax. Sebab, mereka mestinya jadi panutan. Ucapan dan komentarnya berpengaruh besar. Anda bisa bayangkan, bila hoax yang disebar, bisa serta merta diterima masyarakat. Mereka menerima karena melihat ketokohan Anda. Bila ini terus dilakukan, hoax terus diproduksi menjelang masa pencoblosan 27 Juni, bisa menimbulkan konflik di tengah masyarakat. Kalau sudah konflik, selalu menjadi korban rakyat kecil di bawah. Bukan tokoh. Semestinya, di masa sekarang ini, para tokoh menyebarkan kedamaian dan kesejukkan, bukan malah memanaskan situasi.

Kalbar adalah rumah kita bersama. Beda pilihan politik itu hal biasa. Jangan sampai, kita terpecah-belah gara-gara beda pilihan politik. Mereka yang berjuang di Pilkada, putra terbaik Kalbar. Siapapun yang terpilih, mereka pemimpin kita bersama. Bukan pemimpin suku, apalagi agama. Selalulah menjadi orang cerdas. Otak selalu lebih cerdas dari jempol. Ingat itu ya bro..!

Boleh ndak saya kasih sedikit nasihat ni. Bila Anda menerima sebuah informasi, pastikan dulu apakah ada sumber beritanya. Bila tidak ada, pastikan itu hoax. Walau itu disebarkan oleh tokoh atau orang penting di negeri ini. Tahu itu hoax, jangan disebar (share). Cukup berhenti di hape Anda saja. Cukuplah Anda saja yang tahu, jangan orang lain. Bila Anda memiliki kemampuan, bantahlah hoax itu dengan argumentasi cerdas. Seperti yang saya lakukan saat ini, menulis. Menulis untuk meng-counter setiap ada berita hoax. Salah juga bila Anda diam. Kalau semua diam, lantas siapa yang akan melawan hoax. Ayo, mari kita lawan hoax. Tingkatan melawan hoax paling rendah, tidak men-share. Tingkatan paling tinggi, meng-counter hoax lewat argumentasi cerdas dan lewat tulisan. Oke, bro..!

SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER

Menangkap Kejadian - Memberi Makna Hidup

0 Response to "KPK Tetapkan Satu Calon Gubernur Kalbar "Tersangka", Hoax Disebarkan Tokoh"

Post a Comment