Sejarah Alquran, Ternyata Pertama Kali Dicetak di Italia





Siapapun mengaku orang Islam, pasti menjadikan Alquran sebagai kitab suci. Bahkan, Alquran bagian dari iman yang wajib dipercayai. Kalau ada tak percaya Alquran sebagai kalamullah, patut dipertanyakan ke-Islam-annya. Petunjuk dan pedoman hidup umat Islam. Itu sebabnya, umat Islam sangat menghormati Alquran. Jangan coba-coba melecehkan. Apalagi sampai menista. Seluruh dunia umat Islam akan mengutuknya.

Sayang, di balik kecintaan pada Alquran, ternyata banyak umat Islam tidak tahu seperti apa asal-usul dan sejarahnya. Mereka kebanyakan tahu, Alquran kitab suci. Alquran pedoman hidup. Alquran itu kalamullah. Baiklah, kali ini saya akan menjelaskan seperti asal-usul dan sejarah turunnya Alquran. Kebetulan juga sekarang umat Islam sedang memperingati Nuzulul Quran.


Saya mulai dari pengertian Alquran itu sendiri. Alquran berasal dari bahasa Arab yang berarti "bacaan" atau "sesuatu yang dibaca berulang-ulang". Kata Alquran adalah bentuk kata benda (masdar) dari kata kerja qara'a yang artinya membaca. Pernah dengar kata “Iqra” yang biasa ditemukan di TPA itu, berasal dari kata qara’a. Iqra’ kata perintah yang artinya, bacalah.

Dr. Subhi Al Salih mendefinisikan Alquran adalah kalam Allah  yang merupakan mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw dan ditulis di mushaf serta diriwayatkan dengan mutawatir, membacanya termasuk ibadah. Adapun Muhammad Ali ash-Shabuni mendefinisikan Alquran  adalah firman Allah yang tiada tandingannya, diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw penutup para Nabi dan Rasul, dengan perantaraan Malaikat Jibril  dan ditulis pada mushaf-mushaf yang kemudian disampaikan kepada kita secara mutawatir, serta membaca dan mempelajarinya merupakan ibadah, yang dimulai dengan surat Alfatihah dan ditutup dengan surat Annas.

Berikutnya, kapan Alquran pertama kali diturunkan? Pertama kali Rasul menerima wahyu yakni ketika usianya 40 tahun. Beliau sedang menyendiri di Gua Hira pada tanggal 17 Ramadhan. Ayat yang pertama kali turun yaitu ayat 1-5 dari surat Al’alaq. Ayat Alquran yang diturunkan secara berangsur-angsur selama 22 tahun, 2 bulan, 22 hari sesuai dengan peristiwa-peristiwa pentahapan dalam penetapan hukum. Setiap kali Rasul menerima wahyu, beliau langsung menghafalkan ayat-ayatnya dan disampaikan kepada para sahabatnya. Para sahabatnya pun disuruh menghafalkan dan menuliskannya di atas pelepah kurma, lempengan-lempengan batu, dan keping-kepingan tulang.


Setelah ayat-ayat yang diturunkan cukup sampai satu surat, kemudian beliau memberi nama surat tersebut untuk membedakannya dari yang lain, juga memberi petunjuk kepada para sahabatnya tentang penempatan surat dan susunannya di dalam Alquran. Dalam menjaga kemurnian Alquran, setiap tahun malaikat Jibril datang kepada Rasulullah untuk memeriksa dan mengoreksi bacaan Rasul dengan cara menyuruhnya untuk mengulangi bacaan ayat-ayat yang telah diwahyukan. Kemudian, Rasul pun melakukan hal yang sama kepada para sahabatnya, agar tidak terjadi kekeliruan dan kesalahan.

Begitu sejarah singkat turunnya Alquran. Kemurniannya sangat dijaga. Sampai saat ini, tidak ada meragukan keaslian Alquran. Nah, saya ingin tanya, apakah Anda ragu dengan keaslian Alquran yang ada saat ini? Kalau masih ragu, ada baiknya lakukan penelusuran lebih mendalam. Banyak kok buku-buku terkait Alquran ini.

Berikutnya soal nama lain Alquran. Banyak orang Islam hanya tahu bahwa kitab sucinya bernama Alquran. Padahal, banyak lho nama lain Alquran itu. Berikut ini nama lain Alquran yang patut anda ketahui.

Nama lain Alquran:
1.      Al-Kitab, QS(2:2),QS (44:2)
2.      Al-Furqan (pembeda benar salah): QS(25:1)
3.      Adz-Dzikr (pemberi peringatan): QS(15:9)
4.      Al-Mau'idhah (pelajaran/nasehat): QS(10:57)
5.      Al-Hukm (peraturan/hukum): QS(13:37)
6.      Al-Hikmah (kebijaksanaan): QS(17:39)
7.      Asy-Syifa' (obat/penyembuh): QS(10:57), QS(17:82)
8.      Al-Huda (petunjuk): QS(72:13), QS(9:33)
9.      At-Tanzil (yang diturunkan): QS(26:192)
10.  Ar-Rahmat (karunia): QS(27:77)
11.  Ar-Ruh (ruh): QS(42:52)
12.  Al-Bayan (penerang): QS(3:138)
13.  Al-Kalam (ucapan/firman): QS(9:6)
14.  Al-Busyra (kabar gembira): QS(16:102)
15.  An-Nur (cahaya): QS(4:174)
16.  Al-Basha'ir (pedoman): QS(45:20)
17.  Al-Balagh (penyampaian/kabar) QS(14:52)
18.  Al-Qaul (perkataan/ucapan) QS(28:51)



Sejumlah ahli Alquran telah membuat struktur Alquran yang terdiri dari surah, ayat, dan ruku’. Alquran terdiri atas 114 bagian yang dikenal dengan nama surah (surat). Setiap surah terdiri atas beberapa ayat. Surat terpanjang dengan 286 ayat adalah surah Albaqarah dan yang terpendek hanya memiliki tiga ayat yakni surat Alkautsar, An-Nasr dan Al-‘Așr. Surat-surat yang panjang terbagi lagi atas sub bagian lagi yang disebut ruku' yang membahas tema atau topik tertentu.

Sampai di sini, mulai paham apa itu Alquran ya. Kalau belum, baiklah saya lanjutkan. Turunnya ayat Alquran ketika Nabi Muhammad Saw berada di Kota Mekah dan Madinah. Ayat Alquran yang turun di Mekah dinamakan Makkiyah. Sedangkan di Madinah dinamakan Madaniyah.
Surah yang turun di Mekah umumnya pendek-pendek, menyangkut prinsip-prinsip keimanan dan akhlak, panggilannya ditujukan kepada manusia. Sedangkan yang turun di Madinah pada umumnya panjang-panjang, menyangkut peraturan-peraturan yang mengatur hubungan seseorang dengan Tuhan atau seseorang dengan lainnya (syari'ah).

Bagi yang biasa membaca Alquran, pasti ketemu istilah juz dan manzil. Alquran terbagi menjadi 30 bagian dengan panjang sama yang dikenal dengan nama juz. Pembagian ini untuk memudahkan mereka yang ingin menuntaskan bacaan Alquran dalam 30 hari (satu bulan).
Pembagian lain yakni manzil memecah Alquran menjadi 7 bagian dengan tujuan penyelesaian bacaan dalam 7 hari (satu minggu). Kedua jenis pembagian ini tidak memiliki hubungan dengan pembagian subyek bahasan tertentu.

Perlu diketahui, Alquran itu tidak diturunkan sekaligus. Misalnya, tiba-tiba jatuh dari langit, berbentuk kitab. Turun secara berangsur-angsur. Tercatat, Alquran turun secara berangsur-angsur selama 22 tahun 2 bulan 22 hari. Oleh para ulama membagi masa turun ini dibagi menjadi dua periode, yaitu periode Mekkah dan periode Madinah. Periode Mekkah berlangsung 12 tahun.
Sedangkan periode Madinah selama 10 tahun.

Kapan Alquran itu dicatat? Alquran disampaikan Jibral kepada Rasulullah secara lisan (kalam). Lalu, wahyu yang didapatkan tersebut disampaikan Rasulullah kepada sahabat secara lisan. Semua tahu Rasulullah tak bisa tulis baca. Lantas, siapa yang menuliskan ayat-ayat Alquran. Penulisan Aquran dimulai  sejak zaman Nabi Muhammad Saw. Kemudian, transformasinya menjadi teks yang dijumpai saat ini selesai dilakukan pada zaman khalifah Utsman bin Affan.

Saat Rasulullah masih hidup,  beberapa sahabat ditunjuk untuk menuliskan Alquran yakni Zaid bin Tsabit, Ali bin Abi Talib, Muawiyah bin Abu Sufyan dan Ubay bin Kaab. Sahabat yang lain juga kerap menuliskan wahyu tersebut walau tidak diperintahkan. Media penulisan yang digunakan saat itu berupa pelepah kurma, lempengan batu, daun lontar, kulit atau daun kayu, pelana, potongan tulang belulang binatang. Di samping itu banyak juga sahabat-sahabat langsung menghafalkan ayat-ayat Alquran setelah wahyu diturunkan. Tentunya, fisik Alquran pada periode ini wujudnya bukan seperti Alquran yang kita lihat saat ini.

Setelah Rasulullah wafat, upaya menuliskan ayat-ayat Alquran terus berlanjut. Pada masa khalifah Abu Bakar, terjadi perang Ridda.  Akibat perang ini, banyak penghafal Alquran tewas.
Umar bin Khattab yang saat itu merasa sangat khawatir akan keadaan tersebut. Lantas ia meminta kepada Abu Bakar untuk mengumpulkan seluruh tulisan Alquran yang saat itu tersebar di antara para sahabat. Abu Bakar lantas memerintahkan Zaid bin Tsabit sebagai koordinator pelaksaan tugas tersebut. Setelah pekerjaan tersebut selesai dan Alquran tersusun secara rapi dalam satu mushaf, hasilnya diserahkan kepada Abu Bakar.

Abu Bakar menyimpan mushaf tersebut hingga wafat. Kemudian, mushaf tersebut berpindah kepada Umar sebagai khalifah penerusnya. Selanjutnya mushaf dipegang oleh anaknya yakni Hafsah yang juga istri Nabi Muhammad Saw.

Berikutnya, pada masa pemerintahan khalifah ke-3, Utsman bin Affan, terdapat keragaman dalam cara pembacaan Alquran (qira'at) yang disebabkan oleh adanya perbedaan dialek (lahjah) antar suku yang berasal dari daerah berbeda-beda. Hal ini menimbulkan kekhawatiran Utsman sehingga ia mengambil kebijakan untuk membuat sebuah mushaf standar (menyalin mushaf yang dipegang Hafsah) yang ditulis dengan sebuah jenis penulisan yang baku. Standar tersebut, yang kemudian dikenal dengan istilah cara penulisan (rasam) Utsmani yang digunakan hingga saat ini.
Bersamaan dengan standarisasi ini, seluruh mushaf yang berbeda dengan standar yang dihasilkan diperintahkan untuk dimusnahkan (dibakar). Quran yang kita lihat hari ini, adalah mushaf Utsmani.

Kapan Alquran mulai dicetak? Banyak belum tahu, Alquran pertama kali dicetak bukan di negara Islam lho, melainkan di negara Barat. Percetakan Alquran dibagi tiga periode. Periode percetakan klasik (1.500-1900 M), periode mesin cetak modern (1920-1980 M) dan periode digital mushaf (1.800-Sekarang). Percetakan Alquran yang terjadi di barat tidak terlepas dari peran penerjemahan. Sebelum berkembangnya bahasa-bahasa Eropa modern, bahasa yang berkembang di sana adalah bahasa Latin. Oleh karena itu, terjemahan Alquran yang pertama adalah dengan bahasa latin pada tahun 1135 M. Tokoh yang menerjemahkan ke dalam bahasa ini adalah Robert of Ketton (Robertus Retanensis) yang selesai pada bulan Juli 1143 M. dengan penerbitnya Bibliander.

Alquran pertama kali dicetak dan diterbitkan di Venice (Venisia) sekitar tahun 1530 M. Kemudian, di Basel pada tahun 1543 M. Tetapi percetakan itu dihancurkan atas perintah para penguasa gereja. Orang yang pertama kali mencetak Alquran adalah Paganino dan Alessandro Paganini – sekitar tahun 1537 atau 1538 M. Sayang, cetakan Alquran yang kedua tidak diketahui keberadaannya. Salah seorang sarjana Itali, yakni Angelina Nouvo menemukan fotokopi Alquran yang pernah dicetak di Venisia. Fotokopi tersebut ditemukan di Isola – Venisia – tepatnya di perpustakaan Fransiscan Friars of San Michele.

Percetakan yang dilakukan Paganino dan Paganini ini bertujuan untuk dieekspor ke kerajaan Turki Utsmani. Tetapi orang-orang Turki Utsmani tidak mau menerima Alquran tersebut karena:

1.      Orang Turki Utsmani meyakini bahwa Alquran adalah kitab suci yang tidak boleh dipegang oleh orang-orang kafir – non muslim – seperti Paganino dan Paganini. Menurut Jean Bodin (1530-1596 M) dalam bukunya “Colloquium Heptaplomeres”, bahwa orang-orang Turki Utsmani memotong tangan kanan Alessandro Paganini dan merusak seluruh cetakannya.
2.      Alquran yang dicetak di Venisia memiliki banyak kekurangan dan kesalahan yang bisa mengurangi – bahkan merusak – makna Alquran.

Rupanya bukan saja Italia yang mencetak Alquran. Negara Jerman juga pernah mencetak Alquran. Percetakan ini dilakukan di Hamburg pada tahun 1694 M. oleh Abraham Hinckelmann. Empat tahun kemudian Ludovico Maracci mencetak edisi teks Arab dengan terjemah bahasa Latin.LudovisiGustav Flugel – dengan edisi Arab – yang mencetak secara khusus di Leifzig pada tahun 1834 M.Lalu diikuti dengan cetakan berikutnya pada tahun 1841, 1855, 1867, 1870, 1881 dan 1893 M. Edisi ini banyak diikuti oleh sarjana Barat setelah perang dunia I.

Setelah di Jerman, Alquran juga pernah dicetak di St. Petersburg. Ini dilakukan karena mendapat perlindungan dari Ratu Catherine II, dimulai pada tahun 1787, 1789, 1790, 1793, 1796 dan 1798 M. Sedangkan percetakan Alquran di Volga – kota Kazan – terjadi perbedaan pendapat tentang tahunnya. Menurut Sarkîs, hal itu pertama kali terjadi pada tahun 1801 M. Sedangkan menurut Schnurrer, itu terjadi pada tahun 1803 M. Sejak tahun 1842 M. percetakan St. Petersburg mencetak mushaf dengan model yang bervariasi. Sehingga pada tahun 1905 M. percetakan ini mengeluarkan mushaf dengan bentuk format yang besar dengan tujuan untuk diperlihatkan kepada pemerintah pada waktu itu.

Sementara itu, London Inggris juga pernah mencetak Alquran. Terjadi pada tahun1833 M. kemudian pada tahun 1871 dan 1875 M. Bahkan mushaf yang ada di Perpustakaan Universitas Harvad merupakan mushaf cetakan London edisi tahun 1845 dan 1848 M.

Bahkan, India juga pernah mencetak Alquran. Cetakan di Bombay ini dimulai pada tahun 1852, 1865, 1869, 1875, 1881, 1883, 1891 dan 1897 M. Percetakan ini pertama kali disebarkan pada tahun 1856 dan 1857. Sedangkan cetakan Bombay dengan memakai pengantar bahasa persia dan disertai dilakukan oleh Muhammad Ali Qashânî. Percetakan Calcutta yang disertai dengan tafsîr al-Zamakhsyarî diproduksi oleh William Nassau Lees, Abdul Hayyi dan Khaddâm Husain.

Berikutnya, barulah Alquran dicetak di negara Islam. Tercatat, Kairo Mesir pernah tercatat mencetak Alquran  tahun 1864 M., kemudian pada tahun 1866, 1881 dan 1886 M. Lalu, Turki juga ikut mencetak Alquran  pada tahun 1872, 1886, 1889 dan 1904 M.           

Selain di negara-negara di atas, di beberapa negara juga mulai ramai percetakan Alquran Seperti di Iran (1828 M), Tibris (1833 M) dan percetakan lainnya termasuk di Indonesia yang diawasi oleh Kementerian Agama. Selain dicetak, mushaf atau naskah Alquran yang autentik dari masa khalifah Utsmân juga bisa dijumpai.

Bagaimana pembaca budiman. Saya yakin paham ya asal-usul Alquran. Kitab Alquran yang kita lihat saat ini telah mengalami perjalanan sejarah cukup panjang. Ke depan, transformasi percetakan Alquran akan terus terjadi. Sekarang ada Alquran braile, Alquran digital, entah apa lagi namanya. Walaupun fisik Alquran banyak berubah, tapi isi Alquran itu sendiri tidak ada berubah. Tetap orisinil. Kalau ada sedikit saja isu Alquran berubah, pasti menimbulkan kemarahan umat Islam. Semoga tulisan ini dapat memberikan pemahaman apa itu Alquran. Selamat Nuzulul Quran.

SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER

Menangkap Kejadian - Memberi Makna Hidup

0 Response to "Sejarah Alquran, Ternyata Pertama Kali Dicetak di Italia"

Post a Comment